Memuat...

Silakan tunggu sebentar

Pentingnya Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Pentingnya Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Kerja 8 Jam Sehari, Tapi Mental Tergerus? Ini Peringatan Keras WHO

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Oleh Riskal Muslim 13 Feb 2026

Delapan jam sehari. Lima hari dalam seminggu. Bertahun-tahun dalam satu siklus yang sama.

Bekerja adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang dewasa. Namun pertanyaannya, di balik rutinitas itu—apakah mental kita benar-benar baik-baik saja?

Peringatan keras datang dari World Health Organization (WHO). Secara global, sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai US$ 1 triliun per tahun karena turunnya produktivitas.

Angka ini menjadi sinyal bahwa masalah kesehatan mental di tempat kerja bukan isu personal semata, melainkan krisis global yang berdampak sistemik.

Ketika Tempat Kerja Tak Lagi Aman Secara Psikologis

WHO mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang berkontribusi terhadap gangguan mental di lingkungan kerja, antara lain:

  • Beban kerja berlebihan dan target yang tidak realistis

  • Jam kerja panjang dan tidak fleksibel

  • Minimnya kontrol terhadap pekerjaan

  • Budaya organisasi yang permisif terhadap perilaku negatif

  • Diskriminasi, perundungan, dan pelecehan

  • Ketidakpastian karier dan kompensasi yang tidak memadai

Dalam kondisi seperti ini, stres menjadi bagian dari rutinitas. Yang sering kali luput disadari, stres berkepanjangan dapat berkembang menjadi burnout, gangguan kecemasan, bahkan depresi.

Banyak pekerja tetap datang ke kantor setiap hari, tetap menyelesaikan tugas, tetap terlihat “baik-baik saja”. Namun secara perlahan, kesehatan mental mereka terkikis.

Stres Bukan Sekadar “Capek Biasa”

Merasa lelah setelah bekerja adalah hal wajar. Tetapi ketika muncul tanda-tanda seperti sulit tidur, kehilangan motivasi, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, atau merasa hampa berkepanjangan—itu bukan lagi sekadar kelelahan fisik.

Konflik interpersonal, tekanan dari atasan, ekspektasi sosial, hingga ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi akumulasi beban yang jika tidak dikelola dapat mengganggu kesejahteraan secara menyeluruh.

Rekomendasi WHO: Perubahan Harus Sistemik dan Personal

WHO menegaskan bahwa perlindungan kesehatan mental di tempat kerja membutuhkan pendekatan menyeluruh:

  1. Pelatihan bagi pimpinan, agar mampu membangun komunikasi terbuka, mengenali tanda gangguan emosional, serta menciptakan budaya kerja yang suportif.

  2. Peningkatan literasi kesehatan mental bagi pekerja, untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran kolektif.

  3. Intervensi individual, termasuk pelatihan manajemen stres, dukungan psikososial, dan aktivitas fisik rekreatif.

Artinya, tanggung jawab menjaga kesehatan mental tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu. Organisasi memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis.

Refleksi Menuju 2026

Memasuki tahun 2026, menjaga kesehatan mental perlu menjadi bagian dari resolusi utama. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengatur batas kerja yang sehat

  • Mengambil cuti saat dibutuhkan

  • Mengomunikasikan beban kerja secara asertif

  • Menghindari konflik yang tidak produktif

  • Mencari bantuan profesional bila tekanan sudah terasa berat

Bekerja adalah kebutuhan. Namun kesehatan mental adalah fondasi. Tanpa kesejahteraan psikologis, produktivitas hanya akan menjadi angka semu.

Delapan jam sehari mungkin tak bisa dihindari. Tapi memastikan mental tidak tergerus—itulah tanggung jawab bersama, mulai dari individu hingga sistem kerja itu sendiri.