•Tes kebugaran Siswa SMA Negeri 2 Kota Ternate
Alarm Kesehatan Remaja Maluku Utara: 52% Siswa SMA Minim Aktivitas Fisik
Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan MasyarakatOleh Riskal Muslim • 08 Feb 2026
Sofifi – Hasil pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada satuan pendidikan tingkat SMA/sederajat di Provinsi Maluku Utara memunculkan sinyal peringatan serius terhadap kondisi kesehatan remaja. Masalah aktivitas fisik kurang dan kesehatan gigi tercatat sebagai temuan paling dominan di hampir seluruh kabupaten/kota.
Berdasarkan rekapitulasi data per 1 Januari 2026, total peserta CKG mencapai 34.715 siswa yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Dari hasil skrining tersebut, sebanyak 18.337 siswa (52,8%) teridentifikasi memiliki aktivitas fisik yang kurang. Angka ini menjadi indikator tertinggi dibandingkan temuan lainnya.
Kota Ternate mencatat proporsi aktivitas fisik kurang tertinggi, diikuti Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari mulai menjadi pola umum di kalangan pelajar, baik di wilayah perkotaan maupun kabupaten lainnya.
Selain aktivitas fisik, masalah kesehatan gigi (karies) juga menunjukkan angka signifikan. Sebanyak 16.703 siswa (48%) mengalami karies. Kabupaten Kepulauan Sula dan Kota Tidore Kepulauan menjadi wilayah dengan proporsi kasus tertinggi dibandingkan jumlah peserta di daerah masing-masing.
Isu Kesehatan Mental dan Reproduksi Remaja Ikut Meningkat
Data CKG turut mengungkap aspek kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian. Sebanyak 3.520 siswa teridentifikasi memiliki indikasi masalah kesehatan jiwa, dengan 1.963 siswa mengalami gejala depresi ringan. Kota Ternate mencatat angka tertinggi pada indikator ini.
Pada aspek kesehatan reproduksi, sebanyak 5.525 remaja putri teridentifikasi memiliki faktor risiko kesehatan reproduksi, jauh lebih tinggi dibandingkan remaja putra. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan layanan konseling sekolah, peningkatan literasi kesehatan reproduksi, serta pendekatan promotif-preventif yang lebih responsif terhadap karakteristik remaja.
Anemia dan Risiko Metabolik Perlu Diantisipasi Dini
Skrining anemia menunjukkan:
-
1.278 kasus anemia ringan
-
369 kasus anemia sedang
-
85 kasus anemia berat
Selain itu, terdapat 545 siswa dengan kondisi pre-diabetes, yang menjadi sinyal awal risiko penyakit tidak menular pada usia produktif mendatang.
Meskipun angka obesitas relatif rendah (643 siswa), tren ini tetap memerlukan pengawasan mengingat tingginya proporsi aktivitas fisik kurang yang dapat menjadi faktor risiko jangka panjang.
Variasi Tren Antar Wilayah
Analisis data menunjukkan adanya klaster isu kesehatan antar wilayah:
-
Kota Ternate: Dominasi aktivitas fisik kurang dan masalah kesehatan mental.
-
Kabupaten Halmahera Selatan & Halmahera Timur: Tingginya proporsi aktivitas fisik kurang.
-
Kepulauan Sula & Kota Tidore Kepulauan: Masalah kesehatan gigi paling menonjol.
-
Morotai & Halmahera Utara: Relatif lebih stabil dibandingkan wilayah lainnya.
Variasi ini menegaskan bahwa pendekatan intervensi kesehatan remaja tidak dapat disamaratakan, melainkan harus berbasis data dan karakteristik lokal masing-masing daerah.
Penguatan Intervensi Berbasis Sekolah
Hasil CKG menjadi dasar penting dalam perumusan kebijakan dan intervensi lanjutan berbasis sekolah, antara lain:
-
Integrasi program aktivitas fisik rutin di lingkungan pendidikan
-
Penguatan UKS dan layanan kesehatan gigi
-
Edukasi dan skrining kesehatan reproduksi remaja
-
Layanan konseling serta deteksi dini kesehatan mental
-
Penguatan literasi gizi dan pencegahan penyakit tidak menular
Ke depan, data CKG 2026 ini akan menjadi pijakan dalam penyusunan strategi penguatan kesehatan sekolah Provinsi Maluku Utara tahun 2026–2027. Pemerintah daerah berkomitmen menjadikan pendekatan promotif dan preventif sebagai arus utama pembangunan kesehatan remaja, sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan berdaya saing.
CKG tidak hanya menjadi instrumen deteksi dini, tetapi juga kompas kebijakan dalam memastikan generasi muda Maluku Utara tumbuh sehat secara fisik, mental, dan sosial.